"Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda (fityah) yg beriman kepada Rabb mereka. Dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk". {Terjemah QS. Al-Kahfi : 13}

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam". {Terjemah QS. Ali 'Imran : 102}

"Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu". {Terjemah QS. Muhammad : 7}

"Sesungguhnya aku telah meninggalkan kalian diatas sesuatu yang putih bersinar. Malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya melainkan dia pasti binasa". {HR. Ibnu Majah}

"Berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah para Khulafa' ur Rasyidin sesudahku. Berpegang teguhlah dan gigitlah sunnah itu dengan gerahammu. Jauhilah perkara-perkara baru (dalam agama). Karena sesunggguhnya setiap bid'ah adalah kesesatan". {HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi}

Sponsors

Tampilkan postingan dengan label Buletin Alfityah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buletin Alfityah. Tampilkan semua postingan

16 Desember 2012

Perubahan dari Titik Nol

Episode-episode keterpurukan itu nampak sangat jelas. Keterpurukan dalam peradaban, ekonomi, budaya dan kekuatan milter persenjataan seperti menjadi sebuah serial yang terus saja berkelanjutan layaknya sebuah film atau sinetron yang selalu menyediakan episode lanjutan. Banyak yang pesimis dan kecut pada akhirnya. Yah, umat yang -katanya dan seharusnya- gagah menggantungkan 'izzahnya kepada Allah 'azza wa jalla itu dibuat kecut, pesimis dan rendah diri akibat terlalu banyak menyaksikan serial keterpurukannya sendiri. Akibatnya mereka menjadi kaku. Tidak mampu berdiri. Apalagi bergerak.

Padahal sesungguhnya, jenis kelemahan yang paling dahsyat adalah bila kita dengan penuh ketidakberdayaan menerima dan bersandar pada realitas. Realitas bahwa kita telah terpuruk. Realitas bahwa kekuatan hizb asy-syaithan begitu kuat dalam setiap lini. Sungguh, kelemahan yang satu ini sangat menakutkan. Sebab ketika kita semua menjadi manusia yang pasrah dengan kenyataan, lalu tidak berbuat apa-apa untuk menghentikan episode kekalahan ini, maka kita akan menjadi sekumpulan prajurit dan ksatria yang kalah sebelum perang mengibarkan benderanya. Sebab jiwa kita telah takluk, bertekuk lutut. Sekuat apapun senjata penghancurmu, jika jiwamu terkulai, jangan pernah bermimpi meraih kemenangan.

***

Jalan perubahan (baca : jalan kemenangan) itu sendiri sesungguhnya telah begitu jelas bagi umat ini. "Dan sungguh benar-benar Allah pasti akan memenangkan siapa yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allah itu Maha Kuat lagi Maha Berkuasa." (Terjemah al-Hajj ayat 40)

Seharusnya seorang mukmin tidak boleh kalah dan takluk di depan keputusasaan dan kerendahdirian. Sebab imam yang ia miliki bersumber dari Sang Rabb yang mengingatkannya, "Dan janganlah kalian merasa hina rendah, dan jangan (pula) kalian bersedih, sebab kalianlah yang tertinggi bila kalian beriman." (Terjemah Alu Imran ayat 139)

Hanya saja, umat ini seharusnya tidak pernah lupa akan satu hal. Bahwa kemenangan dan kebangkitan umat ini tidak akan lahir dengan sebuah mukjizat. Sebab ia akan terlahir melalui proses sunnatullah. Ya, sunnatullah itu tidak akan mungkin dilanggar. Sunnatullah yang disebutkan Allah Ta'ala ketika menyatakan, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (Terjemah ar-Ra'ad ayat 11)

Jadi, bila engkau bertanya tentang titik awal jalan perubahan dan kemenangan ini, maka jawabnya adalah bahwa ia bermula dari diri kita masing-masing. Adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal -dan sangat disayangkan kesalahan ini diyakini sebagai kebenaran oleh sebagian pelaku pergerakan Islam- bila kita ingin mengubah keadaan tanpa terlebih dahulu melakukan perubahan pada diri para pelaku keadaan itu. Melakukan "pembangunan" ulang dan tarbiyah adalah jalan yang paling tepat untuk mengawali sebuah episode perubahan dan kemenangan. Sebab, kunci dasar dari sebuah kebangkitan dan perubahan keadaan ada pada diri manusia. Itulah sebabnya, dakwah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sepenuhnya tertuju pada pembinaah (tarbiyah) dan pensucian (tazkiyah). "Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang ummiy seorang Rasul, yang membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah)." (Terjemah QS. al-Jumu'ah ayat 2)

Manusia dengan segala potensi yang dikaruniakan Allah padanya adalah makhluk yang memiliki kemampuan yang dahsyat untuk membuat sejarah. Itu pula sebabnya mengapa Allah Ta'ala memilih mereka untuk mengemban amanah yang paling berat. Amanah yang telah ditawarkan sebelumnya kepada langit, bumi dan gunung -makhluk yang secara fisik jauh lebih besar dari fisik manusia- lalu mereka semua menolaknya. Manusialah yang kemudian -dengan gagah- menerimanya.

Namun, manusia pulalah yang menjelma menjadi sosok makhluk yang sangat kompleks. Itulah sebabnya, siapa saja yang meyakini pentingnya membina pribadi pembangun peradaban dan kejayaan umat ini harus menyadari betul bahwa jalan tarbiyah dan tazkiyah ini adalah jalan yang panjang. Kesabaranmu harus berlipat. Dan nafasmu harus sangat panjang...

Tapi itulah jalannya. Jangan tergesa-gesa menitinya. Persis seperti saat dimana pada suatu ketika Khabbab bin Al-Arats radhiyallahu 'anhu mengeluh kepada Sang Rasul betapa beratnya penindasan kaum musyrik pada mereka dan mempertanyakan mengapa tidak segera meminta pada Allah untuk dimenangkan... Persis seperti jawab Sang Rasul yang marah memerah wajahnya, "Sungguh generasi sebelum kalian ada yang disisir kepalanya dengan sisir besi hingga terkoyak dan nampak tulang dari dagingnya, namun itu tak memalingkannya dari agamanya... Lalu diletakkan sebuah gergaji diatas kepalanya, kemudian (kepalanya itu) dibelah hingga menjadi dua, namun itu tidak memalingkannya dari agamanya... Sungguh Allah pasti akan menyempurnakan urusan (agama) ini hingga seseorang dapat berkendara dari Shan'a ke Hadhramaut, ia tidak takut kecuali kepada Allah dan serigala yang akan menerkam dombanya... Tapi kalian adalah orang yang tergesa-gesa..." (Terjemah HR. al-Bukhary)

Jadi, itulah jalannya. Dan jalan itu belum pernah berhenti. Jalan itu tidak terhenti walau engkau telah mendapatkan kursimu. Jalan itu tidak akan berakhir saat orang-orangmu telah diangkat menjadi menteri. Tidak. Sebab jalan ini hanya akan berhenti ketika engkau telah mengeluarkan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan hanya kepada Sang Pencipta seluruh makhluk. Jalan itu akan usai pada satu titik. Pada titik "TAUHID".

(Oleh : Muhammad Ihsan Zainuddin-Makassar)

19 Maret 2012

Hadits-Hadits Lemah tentang Keutamaan Surat Yasin

 
Tidak diragukan lagi bahwa munculnya bid’ah di tengah-tengah masyarakat serta perbuatan-perbuatan yang berbau syirik dan khurafat salah satunya disebabkan mereka tidak bisa membedakan mana yang bid’ah dan mana yang masuk dalam ranah khilafiyah (perbedaan pendapat). Umumnya dikarenakan sikap fanatisme mazhab dan taklid buta yang berlebihan serta ketidak-pahaman terhadap hadits-hadits yang dha’if (lemah) maupun maudhu’ (palsu).
Termasuk dalam permasalahan ini adalah apa yang berkembang di tengah masyarakat kita yang begitu mengagungkan pembacaan surat Yasin pada malam-malam atau perayaan-perayaan tertentu. Berikut ini kami akan uraikan kelemahan hadits-hadits yang berbicara tentang fadhilah (keutamaan) surat Yasin.

******

Hadits Pertama

من قرأ يس كل ليلة غفر له

Barangsiapa yang membaca surat Yasin pada setiap malam, niscaya akan diampuni dosa-dosanya”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al Baihaqi dalam kitab Syu’ab al Îmân dan tidak ada seorang pun dari ulama ahli hadits yang menshahihkannya. Silahkan lihat kitab Jâmi’ ash Shaghîr oleh Imam as Suyuthi, jilid II bagian huruf (mim) halaman 178, dan juga kitab Dha’îf Jâmi’ ash Shaghîr wa Ziyâdatihi oleh Syaikh Nashiruddin al Albani di bagian huruf (mim)



Hadits Kedua

من قرأ يس فى ليلة أصبح مغفورًا له

Barangsiapa membaca surat Yasin pada malam hari, maka dia berpagi-pagi dalam keadaan diampuni (dosa-dosanya)”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al Baihaqi dan Abu Nu’aim dalam kitab al Hilyah. Menurut Imam Ibnul Jauzi, “Hadits ini dari semua jalannya adalah batil, tidak ada asalnya”. Berkata Imam ad Daruquthni, “Muhammad bin Zakaria yang ada di sanad hadits ini adalah pemalsu hadits”.

Ringkasnya, hadits ini maudhu’ (palsu). Lihat kitab al Maudhû’ât jilid I halaman 246 dan 247 oleh Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu.



Hadits Ketiga

من قرأ يس مرةً فكأنما قرأ القرآن مرتين

Barangsiapa membaca surat Yasin sekali saja, maka seolah-olah dia membaca al Quran dua kali”.

Hadits ini diriwayatkan oleh al Baihaqi dalam Syu’ab al Îmân. Hadits ini maudhu’ yang tidak diketahui asal usulnya.



Hadits Keempat

من قرأ يس مرةً فكأنما قرأ القرآن عشر مرات

Barangsiapa yang membaca surat Yasin sekali, maka seolah-olah dia membaca al Quran sepuluh kali”.

Hadits ini juga hadits maudhu’ yang diriwayatkan oleh Imam al Baihaqi rahimahullahu yang tidak diketahui asal usulnya. Selain itu, hadits ketiga dan keempat diatas saling bertentangan. Silahkan dilihat pada kitab Jâmi’ ash Shaghîr jilid II halaman 178 pada bagian huruf (mim) dan kitab Dha’îf Jâmi’ ash Shaghîr wa Ziyâdatihi juga pada bagian huruf (mim).



Hadits Kelima

إن لكل شيئ قلبًا وقلب القرآن يس، ومن قرأ يس كتب الله له بقراءتها قراءة القرآن عشر مرات

Sesungguhnya bagi setiap sesuatu itu mempunyai hati, dan hati al Quran adalah surat Yasin. Oleh karena itu, barangsiapa membaca surat Yasin, maka Allah akan memberikan pahala bagi bacaannya itu sama seperti pahala membaca al Quran sepuluh kali”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam at Tirmidzi dalam Sunan-nya jilid IV hadits no. 3048, halaman 337. Setelah meriwayatkan hadits ini beliau berkata, “Harun Abu Muhammad yang ada dalam sanad hadits ini adalah majhul (tidak dikenal sifat dan keadaan dirinya)”.

Hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang majhul termasuk kategori hadits yang dha’if (lemah) yang riwayatnya tidak bisa diterima dan diamalkan. Menurut Imam Abu Hatim, seorang rawi dalam hadits ini yang bernama Muqatil bukanlah Muqatil bin Hayyan, akan tetapi Muqatil bin Sulaiman, salah seorang pendusta. Jika hal ini benar, maka tidak diragukan lagi bahwa hadits ini adalah maudhu’.

Lihat Silsilah al Ahâdits adh Dha’îfah wal Maudhû’ah oleh Syaikh al Albani, jilid I halaman 202 hadits no. 169.



Hadits Keenam

اقرأوا يس على موتاكم

Bacakanlah surat Yasin untuk orang-orang yang akan mati diantara kalian”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, an Nasa’i dan Ibnu Majah. Menurut Imam an Nawawi, isnad hadits ini dha’if. Di dalamnya terdapat dua perawi yang majhul.

Pertama; Abu Utsman; berkata Imam Ibnul Mundzir, “Abu Utsman dan bapaknya bukan orang yang masyhur (terkenal di kalangan ahli hadits)”. Lihat dalam ‘Aun al Ma’bûd Syarh Sunan Abî Dâwûd jilid VIII halaman 390. Imam Ibnu Al Qaththan berkata, “Hadits ini memiliki ‘illah (penyakit tersembunyi) serta mudhtharib (goncang) karena Abu Utsman dan bapaknya majhul”.

Kedua; bapaknya Abu Utsman selain majhul, ia juga seorang rawi yang mubham (rawi yang tidak disebut namanya dalam sebuah sanad). Maka dengan sendirinya, gugurlah hadits ini ke derajat dha’if yang tidak boleh diamalkan.



Hadits Ketujuh

يس قلب القرآن، لا يقرأها رجل يريد الله والدار الآخرة إلا غفر له، واقرأوها على موتاكم

Yasin adalah hatinya al Quran. Tidaklah seseorang membacanya karena Allah dan mengharapkan negeri akhirat melainkan dia akan diampuni. Dan bacakanlah dia untuk orang-orang yang akan mati diantara kalian”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullahu. Derajat hadits ini juga dha’if disebabkan oleh Abu Utsman dan bapaknya. Lihat Nail al Authâr IV/ 52, Subul as Salâm II/ 90 dan Tafsîr Ibnu Katsîr I/ 32, III/ 562.

Hadits keenam dan ketujuh ini dijadikan dalil oleh mereka yang membolehkan membaca surat Yasin di sisi orang yang telah meninggal. Sebenarnya kalimat ( موتاكم ) yang dimaksudkan dalam kedua hadits tersebut bukanlah orang yang telah meninggal tapi orang yang hampir meninggal. Perhatikanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam;

لقنوا موتاكم لا إله إلا الله

Tuntunlah olehmu orang-orang yang hampir mati diantara kalian ucapan La ilaha illa_Llahu!”. [HR. Muslim, Abu Dawud, at Tirmidzi, an Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad]

Hadits ini bukanlah perintah untuk mentalqin orang yang sudah mati seperti kebiasaan yang ada di masyarakat kita. Karena yang dimaksud beliau adalah orang yang hampir mati agar akhir perkataannya dalam kehidupan dunia ini adalah kaliamt tauhid. Ini sesuai denga sabda beliau yang mengatakan,

من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة

Barangsiapa yang akhir ucapannya La ilaha illa_Llahu, niscaya dia akan masuk surga”. [HR. Ahmad, al Hakim dan lain-lain]

Akan tetapi, karena hadits keenam dan ketujuh dha’if, maka membaca Yasin di sisi orang yang akan meninggal maupun yang sudah meninggal tidak boleh dikerjakan karena tidak ada contoh dan perintahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

******
 
Dari uraian ringkas ini, hendaknya kaum muslimin mau menyadari bahwa apa yang mereka kerjakan beramai-ramai di sisi orang yang sudah meninggal atau di sisi kuburan dengan membaca surat Yasin atau surat-surat lainnya dalam al Quran bukanlah sunnah, bahkan termasuk perbuatan bid’ah yang tercela. Hendaknya mereka mau memikirkan salah satu ayat yang dalam surat Yasin itu sendiri yang mengatakan :

إن هو إلا ذكرٌ وقرْآنٌ مبينٌ، لينْذرَ منْ كانَ حيًّا ...

Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. Supaya dia (al Quran) memberi peringatan kepada orang yang hidup”. [QS. Yasin ayat 69 dan 70]

Ya,,, Allah menegaskan bahwa al Quran ini untuk orang-orang yang hidup, sementara mereka justru menjadikannya untuk orang yang sudah mati dan tidak mampu berbuat apa-apa. Subhanallah!!

******

Peringatan

Tulisan ini bukanlah larangan untuk membaca surat Yasin, karena semua surat dalam al Quran adalah baik dan disyariatkan untuk dibaca. Akan tetapi tidak boleh mengkhususkan surat-surat tertentu atau mengutamakannya dari surat-surat yang lain tanpa disertai dalil yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Wallahu a’lam.

 

(Disarikan dari buku “25 Masalah Penting dalam Islam” oleh Ust. Abdul Hakim bin Amir Abdat)

26 Februari 2012

Kembalilah Kepada Fitrah

Pengakuan akan keberadaan, kekuasaan dan kemaha-sempurnaan Sang Pencipta (Tauhid Rubûbiyah) adalah perkara yang fitrah, yang dimiliki oleh setiap manusia. Tidaklah ingkar terhadap fitrah ini melainkan segolongan kecil dari manusia yang menyimpang pemikiran dan tabiatnya.

Fir’aun adalah salah satu makhluk yang paling terkenal dalam penyimpangan ini. Namun tidaklah dia menampakkan sikap ganjil tersebut melainkan semata-mata karena kesombongan. Hal demikian telah dinyatakan Allah lewat firman-Nya :
Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya”. [terjemah QS. An Naml : 14]

Fir’aun sangat mengetahui keberadaan Allah. Terbukti dari pernyataan yang keluar dari lisannya yang penuh kedustaan dan kesombongan;
Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkan untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”. [terjemah QS. Al Qashash : 28]

Demikianlah perintah itu keluar dari lisannya… Perintah untuk membuat bangunan yang tinggi hingga ke langit agar dia bisa melihat Tuhannya Musa ‘alaihissalam. Lantas, siapakah yang mengabarinya, bahwa Allah yang dia ingkari itu berada di langit?!... Sungguh, inilah sebuah pengakuan… Tetapi kesombongan adalah awan kelam yang akan menghalangi siapa saja dari cahaya sang mentari. Karena itu, Musa berkata kepada Fir’aun (artinya);
Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa”. [QS. Al Isra’ : 102]


Namun, sekali lagi, kesombongan adalah penyakit yang sungguh sangat mematikan. Bila seseorang telah terjangkit oleh penyakit ini, lantas dia biarkan dan tidak segera diobati, maka Allah mengatakan ;
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau kamu tidak beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka pun ditutup, dan bagi mereka siksa yang amat berat”. [terjemah QS. Al Baqarah; 6-7]
Inilah penyakit kronis yang telah menggerogoti hati sang Fir’aun dahulu dan fir’aun-fir’aun saat ini. Penyakit yang telah membuat hati sang penguasa itu mati dan tidak lagi mampu melihat kebenaran.

Maka untuk menegaskan hal ini, simaklah percakapan sang penguasa itu dengan nabiyullah Musa ‘alaihissalam yang dituangkan Allah lewat firman-Nya dalam surat Asy-Syu’araa’, ayat 23-51 (terjemahan; yang dalam tanda […] bukan ayat Al Quran. Harap dipahami!);

Fir’aun bertanya, “Siapakah Tuhan semesta alam itu?”
Musa menjawab, “Tuhan Pencipta langit dan bumi serta segala apa yang ada diantara keduanya. (Itulah Tuhan-mu), jika kalian mempercayai-Nya”.
Berkata Fir’aun (dengan sombong dan penuh kecongkakan) kepada orang-orang di sekelilingnya, “Tidakkah kalian mendengarkan secara seksama pernyataannya (bahwa ada Tuhan selain aku)?!”

[Ketika tidak mampu memberi argumentasi yang logis … (Red)];
Fir’aun berkata, “Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang yang gila!!”

[Seolah tidak peduli dengan ocehan Fir’aun…];
Musa berkata, “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada diantara keduanya; (itulah Tuhan-mu) jika kamu mempergunakan akal”.

[Dengan amarah yang meluap, Fir’aun pun menggunakan ancaman…]
Fir’aun berkata, “Sungguh, jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan!”

Musa berkata, “Apakah (kamu akan tetap melakukan itu) kendati pun aku tunjukkan kepadamu sesuatu (keterangan) yang nyata?”

Fir’aun berkata, “Datangkan (keterangan) yang nyata itu, jika kamu adalah termasuk orang-orang yang benar”.

Maka Musa melemparkan tongkatnya, lalu tiba-tiba tongkat itu (menjadi) ular yang nyata. Kemudian dia menarik tangannya (dari dalam bajunya), maka tiba-tiba tangan itu jadi putih (bersinar) bagi orang-orang yang melihatnya.

Fir’aun berkata kepada pembesar-pembesar yang berada di sekelilingnya, “Sesungguhnya Musa ini benar-benar seorang ahli sihir yang pandai”.

[Dengan nada provokasi, Fir’aun melanjutkan perkataannya…]; “Dia (Musa ‘alaihissalam) hendak mengusir kamu dari negerimu sendiri dengan sihirnya; karena itu, bagaimana pendapat kalian?”

[Terpancing dengan provokasi tersebut…]
Mereka menjawab, “Tundalah (urusan) dia dan saudaranya dan kirimkanlah ke seluruh negeri orang-orang yang akan mengumpulkan (ahli sihir)” Lalu dikumpulkan ahli-ahli sihir pada waktu yang ditetapkan di hari yang maklum.

[Yaitu di waktu pagi di hari yang dirayakan]

Dan dikatakan kepada orang banyak, “Berkumpullah kamu sekalian, semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang”.

[Mereka sangat mengharapkan benar-benar ahli sihir itulah yang akan menang, sehingga manusia tidak lagi percaya kepada Musa ‘alaihissalam dan ajaran tauhid yang dibawanya]

Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, mereka bertanya kepada Fir’aun, “Apakah kami sungguh-sungguh mendapat upah yang besar jika kami adalah orang-orang yang menang?”

[Dengan iming-iming keduniaan, Fir’aun memberikan dorongan moril…]
Fir’aun menjawab, “Ya, kalau kamu sekalian menang, sesungguhnya kalian benar-benar akan menjadi orang yang didekatkan (kepadaku)”.

[Maka dimulailah acara tersebut…]
Berkatalah Musa kepada mereka, “Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan!”

Lalu mereka melemparkan tali temali dan tongkat-tongkat mereka dan berkata, “Demi kekuasaan Fir’aun, sesungguhnya kami benar-benar akan menang”.

Kemudian Musa melemparkan tongkatnya, maka tiba-tiba tongkat (yang menjadi ular nyata itu) menelan benda-benda palsu yang mereka ada-adakan itu…

Lantas apa yang terjadi selanjutnya sungguh membuat hati bertambah yakin akan dampak yang sangat negatif dari sikap sombong manakala telah menggerogoti hati seseorang. Simaklah perbedaan yang begitu mencolok antara orang-orang yang benar dalam fitrahnya dengan orang-orang yang telah terkotori fitrahnya itu dengan kesombongan. Allah Ta’ala berfirman tentang ahli-ahli Sihir Fir’aun setelah mereka menyadari kekalahan dan kebenaran mukjizat Musa ‘alaihissalam (artinya) :

Maka tersungkurlah ahli-ahli sihir itu sambil bersujud (kepada Allah). Mereka berkata, “Kami beriman kepada Rabb semesta alam, (yaitu) Rabb Musa dan Harun…”

Demikianlah keimanan (fitrah) itu kembali merekah dengan ilmu dan kerendahan hati setelah sekian lama terkatup dalam lembar kebodohan. Tetapi bagaimanakah dengan reaksi sang penguasa yang sombong itu? Marilah kita simak perkataan Allah selanjutnya (artinya);

Fir’aun berkata, “Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu. Maka kamu nanti pasti benar-benar akan mengetahui (akibat perbuatanmu). Sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilangan, dan aku akan menyalibmu semuanya!!”

Akan tetapi, manakala keimanan telah bersemi dan menjadi kokoh, maka ia ibarat sebuah pohon besar, akarnya menghunjam kuat ke dalam tanah dan rantingnya tinggi menjulang ke angkasa, tidak tergoyahkan meski badai datang menghantam. Hal inilah yang ditunjukkan oleh para penyihir yang telah beriman itu, menanggapi ancaman dari sang penguasa yang sombong. Allah Ta’ala berfirman (artinya);

Mereka berkata, “Tidak ada kemudharatan (bagi kami); sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami. Sesungguhnya kami amat menginginkan bahwa Rabb kami akan mengampuni kesalahan kami, karena kami adalah orang-orang yang pertama-tama beriman”.

Pengakuan akan keberadaan, kekuasaan dan kemaha sempurnaan Sang Pencipta (tauhid rubûbiyyah) –sekali lagi- adalah perkara yang fitrah, yang dimiliki setiap manusia. Tidaklah fitrah ini diingkari kecuali oleh segolongan kecil manusia yang memiliki kelainan dalam sifat dan tabiatnya. Fitrah itulah yang nantinya akan membawa kepada kesadaran bahwa hanya Dia-lah satu-satunya Dzat yang berhak untuk disembah dan diibadahi dalam segala bentuk peribadatan (tauhid ulûhiyyah).

Semoga Allah menjadikan kita kaum muslimin termasuk ke dalam golongan orang-orang yang terjaga fitrahnya, dan semoga Dia melindungi kita dari sikap sombong, sikap Iblis, sikap Fir’aun dan orang-orang yang semisalnya.
 

(Sumber : Majalah al Bashirah, Makassar, edisi 06 th. II/ Shafar 1426, dengan sedikit perubahan)

17 Desember 2011

Adab Keseharian Seorang Muslim

Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaan Islam ini mencakup segala aspek kehidupan yang dijalani oleh seorang manusia. Karena itu, selain berbicara tentang tauhid dan ibadah, Islam juga mengajarkan tentang akhlak, adab dan mu’amalah (interaksi dengan manusia dalam jual beli dll). Sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan juga kepada shahabatnya bagaimana adab-adab ketika buang hajat. Itulah kesempurnaan dan kemuliaan Islam yang tidak akan didapatkan pada agama-agama yang lain.
Akan tetapi sangat disayangkan, untuk persoalan yang remeh dalam masalah adab pun sering masih diabaikan oleh kaum muslimin. Entah itu karena kejahilannya atau memang karena kemalasan untuk mengamalkan sunnah atau juga karena lebih suka meniru perilaku orang-orang diluar Islam.
Berikut ini kami akan sebutkan beberapa adab yang tidak sesuai dengan petunjuk Islam dan telah dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits-hadits yang shahih.


1. Makan/ Minum dengan Tangan Kiri
      Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian makan dengan tangan kirinya, dan jangan minum dengan tangan kirinya. Karena sesungguhnya syaitan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya”. [terjemah HR. Muslim]

2. Berjalan hanya dengan Satu Sandal/ Sepatu
Dari Abu Hurarah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
Janganlah salah seorang dari kalian berjalan dengan satu sandal. Dia memakai kedua sandalnya, atau melepaskan keduanya”. [terjemah HR. Bukhary dan Muslim]
   Hukum asal larangan adalah pengharaman, akan tetapi mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum perbuatan ini adalah makruh, dengan dalil perkataan Aisyah :

   ”Terkadang tali sandal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam putus, dan akhirnya beliau berjalan dengan satu sandal sampai beliau memperbaikinya”. [HR. at Tirmidzi]


3. Tidak menutup mulut saat menguap.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Apabila salah seorang dari kalian bersin dan memuji Allah, maka wajib bagi setiap muslim yang mendengarkannya untuk mengucapkan: ‘Yarhamuka_llaahu’. Adapun menguap dari syaitan. Bila salah seorang dari kalian menguap, hendaknya dia menahan semampunya. Karena jika seorang dari kalian menguap, maka syaitan tertawa”. [terjemah HR. Bukhary]
Dalam riwayat lain beliau bersabda :”Bila salah seorang dari kalian menguap maka tutuplah mulutnya dengan tangannya, karena syaitan akan masuk”. [terjemah HR. Muslim]


4. Dua Orang Berbisik tanpa Orang Ketiga
Dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
Jika kalian bertiga, maka janganlah yang dua orang berbisik tanpa orang yang ketiga hingga mereka berbaur dengan orang lain. Karena yang demikian akan membuatnya bersedih”. [terjemah HR. Bukhary dan Muslim]
   Islam sangat menghargai perasaan manusia. Karenanya, dilarang dua orang berbisik tanpa melibatkan orang ketiga. Karena hal itu akan menimbulkan kecurigaan pada orang tersebut bahwa kedua kawannya sedang membicarakan keburukannya, yang akan membuatnya bersedih.

 
Termasuk dalam larangan ini, ketika seseorang berbicara kepada kawannya dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh orang ketiga.


5. Bernafas / Meniup di Gelas saat Minum

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang bernapas dalam wadah, atau meniupnya”. [terjemah HR. Abu Dawud dan at Tirmidzi].

    Yang demikian itu karena bernapas di gelas saat minum dan meniup minuman memiliki pengaruh besar bagi kesehatan manusia.


Itulah beberapa larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berkaitan dengan adab-adab keseharian kita. Semoga kita bisa menjadi pengikutnya yang setia berjalan diatas Sunnahnya, baik dalam (yang paling pertama dan utama) aqidah dan ibadah, begitu juga (setelahnya) dalam akhlak, adab dan mu’amalah. Amin!

==============

(sumber : Buletin Al Fityah, edisi 05, Th. 1/Sya’ban 1431H)

16 November 2011

Menjaga Kemurnian Tauhid

Imam al-Bukhary dan Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah Ummul Mukminin dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhum, bahwasannya mereka berdua berkata :

“Menjelang wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau menutupkan kain ke wajahnya. Jika merasa agak ringan, beliau menyingkap kain tersebut dari wajahnya. Beliau bersabda dalam keadaan demikian :

‘Semoga laknat Allah untuk orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mereka telah menjadikan kubur-kubur para nabi mereka sebagai tempat ibadah’; beliau memperingatkan (umatnya) dari apa yang mereka perbuat”. (Terjemah HR. al-Bukhary dan Muslim)








Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata :

“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sakit, sebagian istri-istrinya menyebutkan tentang sebuah gereja di negeri Habasyah yang disebut : Maria. Ummu Salamah dan Ummu Habibah dahulu pernah mendatangi negeri Habasyah. Mereka pun menyebutkan tentang keindahannya dan juga gambar-gambar/ patung-patungnya…”

Aisyah berkata : “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kepalanya dan bersabda : ‘Mereka itu adalah suatu kaum yang jika meninggal seorang tokohnya, maka mereka akan membangun tempat ibadah diatas kuburnya, kemudian mereka membuatkan gambar-gambar/ patung-patung tersebut. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari Kiamat nanti’.” (Terjemah HR. al-Bukhary dan Muslim)





Itulah sebuah wasiat yang tulus, yang dengannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpisah dari sahabat-sahabatnya. Walaupun berat penderitaan dan sakit yang beliau rasakan, namun beliau terus-menerus berwasiat dengan wasiat tersebut, sebagai bentuk kasih sayangnya kepada umatnya dan kekhawatirannya kalau umatnya harus terjerumus kepada penyimpangan sebagaimana umat-umat terdahulu.

Pada detik-detik terakhir kehidupannya, yang menjadi obsesi terbesar beliau adalah memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya tentang tauhid; menjaga tauhid dari segala macam bentuk kesyirikan dan bid’ah, dan memperingatkan umat dari berbagai macam bentuk penyimpangan dan pengagungan yang berlebihan kepada selain Allah.



Allah ‘azza wa jalla memerintahkan para hamba untuk bertauhid dengan tauhid yang murni, bersih dari segala noda-noda kesyirikan dan bid’ah. Allah Ta’ala berfirman :




وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء
 

“Dan mereka tidak diperintahkan melainkan untuk memurnikan agama semata-mata untuk-Nya…”. (Terjemah QS. Al Bayyinah : 5)


Allah juga berfirman :
 

قل إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين

“Katakanlah : Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku untuk Allah Rabb semesta alam”. (Terjemah QS. Al An’am : 162)


Persoalan tauhid adalah persoalan yang sangat penting dan paling mulia dalam agama ini. Para rasul telah datang silih berganti untuk menjelaskan dan mendakwahi manusia kepadanya. Allah Ta’ala berfirman :

وما أرسلنا من قبلك من رسول إلا نوحي إليه أنه لا إله إلا أنا فاعبدون


“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tiada ilaah (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah oleh kamu sekalian akan Aku”. (Terjemah QS. 21 : 25).

Karena itulah kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dipenuhi dengan seruan kepada tauhid dan peringatan akan bahaya kesyirikan serta berlepas diri dari para pelaku kesyirikan. Beliau mengajarkan para sahabat batasan-batasan dan kaedah-kaedahnya. Beliau pernah berkata kepada Mu’adz :

“Wahai Mu’adz, apakah engkau tahu apakah hak Allah atas para hamba dan hak para hamba dari Allah?”

Mu’adz menjawab : Allah dan rasul-Nya lebih tahu!

Beliau bersabda : “Sesungguhnya hak Allah atas para hamba adalah mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan hak para hamba dari Allah adalah Dia tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun” (Terjemah HR. al Bukhary dan Muslim)

Ketika mengutus Mu’adz ke negeri Yaman, beliau juga berpesan untuk mendakwahkan tauhid sebagai misi pertama dan utama sebelum rukun-rukun Islam yang lainnya. (Diriwayatkan juga oleh al Bukhary dan Muslim).

 

Beliau juga mengutus para sahabatnya untuk menghancurkan benteng-benteng kesyirikan dan paganisme. Diriwayatkan dari Abul Hayyaj al-Asady, ia berkata : Ali bin Abi Thalib berkata kepadaku : “Maukah aku mengutusmu dengan apa yang dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengutusku; ‘Janganlah engkau membiarkan sebuah patung melainkan engkau hancurkan dan tidak pula kubur yang tinggi melainkan engkau ratakan’.” (Terjemah HR. Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat antusias untuk menghancurkan segala bentuk kesyirikan dan menutup pintu-pintunya. Karena itulah beliau dalam hadits-hadits yang shahih melarang untuk meninggikan kuburan, membangun diatas kuburan, mengapurnya, shalat di sisinya, menjadikannya sebagai tempat perayaan, menyalakan pelita padanya dan lain-lain dari perkara-perkara yang bisa mengantarkan kepada pengagungan dan sikap berlebihan terhadap para penghuni kubur tersebut (biasanya dengan dalih orang saleh atau wali Allah)

Hanya kepada Allah kita memohon untuk menyelamatkan umat ini dari bahaya kesyirikan yang banyak terjadi di sekeliling kita…

27 Juli 2011

TERORISME BUKAN JIHAD

Mengidentikkan terorisme dengan jihad adalah keliru. Sama kelirunya dengan mengidentikkan terorisme dengan Islam. Islam bukan agama kekerasan yang menghalalkan darah dan nyawa manusia tanpa alasan syar’i. Islam adalah agama kasih sayang, agama rahmatan lil ‘âlamîn bagi sekalian makhluk hidup.
Meskipun sebagian pelaku teroris mengklaim dan diklaim sebagai aktivis Islam, bahkan tindakan mereka didasari akan keyakinan kemuliaan jihad yang salah dipahami dari al Quran dan Hadits; namun tindakan tersebut dilarang dan bertolak belakang dengan ajaran Islam. Dalam Islam, darah dan nyawa seseorang dilarang untuk diganggu atau dihilangkan tanpa alasan syar’i, baik muslim maupun non-muslim.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada Haji Wada’ dengan sabda yang sangat jelas, “Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kamu adalah haram atas kamu seperti haramnya hari kamu ini, di bulan kamu ini, dan di negeri kamu ini.” [terjemah HR. al-Bukhari dan Muslim]
Beliau juga bersabda,”Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada ilâh yang hak kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah kecuali karena salah satu dari tiga perkara : orang berzina yang telah menikah, menghilangkan nyawa dan orang yang meninggalkan agamanya lagi memisahkan diri dari jama’ah.” [terjemah HR. al-Bukhari dan Muslim]
Mengenai orang kafir, beliau bersabda,”Barangsiapa yang membunuh seorang kafir mu’âhad (yang mendapat jaminan keamanan), niscaya dia tidak akan mencium bau surga. Sementara bau surga bisa tercium dari jarak 40 tahun perjalanan.” [terjemah HR. al-Bukhari]
          Ketiga hadits diatas sangat gamblang dan jelas, bahwa membunuh manusia  –muslim atau non muslim- tanpa alasan syar’i adalah haram. Jika haram, maka pelakunya akan berdosa dan terancam murka Allah dan siksaan neraka, wal ‘iyâdzu bi_llâh.

---00000---

Islam jadi Sasaran
Menurut Dr. Anies Baswedan, bahwa dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Chicago Project for Suicide Terrorisme yang mengkaji titik-titik terorisme di dunia semenjak tahun 1980 hingga 2004, ternyata jumlahnya sangat banyak. Menariknya lagi, pelaku terorisme lebih banyak yang dari luar Islam.
Namun, Islam terlanjur dituduh sebagai ajaran yang mengajarkan kekerasan dan radikalisme yang berujung pada aksi terorisme. Keadaan ini diperburuk dengan kejadian 11 September 2001 dan disusul penyerangan Amerika Serikat dan sekutunya terhadap Afghanistan dan Iraq.
Agresi militer Barat yang membabi buta dengan banyaknya pelanggaran dalam etika peperangan (yang diatur dalam Konvensi Jenewa) serta berbagai pelanggaran HAM, justru memunculkan ghirah semangat perlawanan dan balas dendam dari para aktivis Islam yang salah memahami konsep jihad di beberapa belahan dunia, termasuk Indonesia. Perlawanan mereka juga sama membabi butanya dengan AS. Mereka melakukan teror dan pengeboman di daerah bukan perang. Sejak itu, khusus di Indonesia, stigmatisasi mulai dibangun, Islam didentikkan dengan terorisme. 

---00000---

Jihad dalam Islam
          Dalam Islam, terorisme tidak pernah bisa ditolerir, siapa pun pelakunya dan apapun motifnya. Jihad dalam Islam memiliki beberapa bentuk. Ada Jihâd an-Nafs (jihad untuk menundukkan hawa nafsu) seperti berjihad untuk mempelajari ilmu dan mengamalkannya, serta bersabar dalam menghadapi berbagai ujian hidup. Ada juga Jihâd asy-Syaithân (jihad melawan syaitan) yang terdiri dari berjihad membentengi diri dari syubhat dan keraguan yang dapat merusak iman. Ada juga Jihâd al-Kuffâr wa al-Munâfiqîn (jihad melawan orang-orang kafir dan munafik).
Khusus jihad berperang melawan orang-orang kafir, Allah telah berfirman,”Wahai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan munafik, dan bersikap keraslah terhadap mereka.” [terjemah QS. 9:73]
Yang harus dipahami dari perintah ini adalah bahwa berperang dengan senjata melawan orang-orang kafir tidak dilakukan secara serampangan, namun memiliki beberapa syarat yang telah diatur dalam Syariat, yaitu : adanya seorang imam (pemimpin negara), adanya daulah (negara yang berdaulat dan memiliki wilayah yang diakui) dan adanya bendera jihad. Kecuali kalau umat Islam diserang di nengerinya, maka saat itu wajib membela diri.
Islam sebagai agama yang sempurna sangat jelas menguraikan tentang jihad. Berperang di jalan Allah tetap mengedepankan etika, sebab tujuannya sangat mulia. Tujuan utama dari jihad adalah menegakkan kalimat Allah di muka bumi. Jihad bukan sekedar membunuh dan dibunuh sebagaimana yang diperlihatkan para pelaku teror, yang membunuh siapa saja, baik muslim maupun non muslim.
Mereduksi atau bahkan menghilangkan makna jihad dari ajaran Islam tidaklah benar dan tidak bijak. Justru pemahaman yang salah dalam memaknai jihad perlu diluruskan dan diarahkan. Sehingga umat, terutama generasi muda, tidak salah memaknai jihad, yang akhirnya akan melahirkan tindakan yang melenceng dari hakikat jihad dengan melakukan perusakan yang tidak hanya merugikan dirinya sendiri, keluarga dan umat, tapi juga menodai ajaran Islam yang suci ini, wa_llâhu_l_musta’ân.

---00000---

Sumber : Buletin al-Balagh edisi 08 Maret 2011/www.wahdah.or.id dengan ringkasan dan sedikit perubahan.

05 Juli 2011

Titian Pertama

Titian pertama itu bernama Tauhid. Ia adalah fokus utama dakwah seluruh rasul ‘alaihimussalam, ia adalah kunci awal keselamatan, sekaligus sebagai penentu akhir titian seseorang. Mungkin surga dan mungkin pula neraka; semoga Allah ta’ala menjadikan kita sebagai ahli surga dan menyelamatkan kita dari neraka..Mengesakan Allah dalam seluruh keberhakan-Nya; demikianlah Tauhid.



Baik keberhakan-Nya untuk dijadikan sebagai sesembahan yang tunggal (disebut dengan Tauhid Uluhiyyah), dan itulah inti tauhid; atau keberhakan-Nya sebagai penguasa mutlak di jagad raya, yang menciptakan, mengatur, memberi rezki, menghidupkan, mematikan, memutuskan perkara, dan yang semisalnya (disebut sebagai Tauhid Rububiyyah); atau keberhakan-Nya sebagai satu-satunya Dzat yang memiliki nama dan sifat-sifat yang maha sempurna, tidak serupa dengan satupun makhluk yang berada di alam raya ini (itulah Tauhid al-Asmâ’ wa ash-Shifât).


Tauhid Uluhiyyah adalah inti tauhid. Dinyatakan demikian, karena jenis tauhid inilah yang merupakan pokok dakwah sekalian rasul. Intisarinya adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam ibadah dan meniadakan sesembahan-sesembahan batil yang selain-Nya. Demikianlah makna “Lâ ilâha illa_llâh”, kalimat tauhid, yang merupakan tugas utama para rasul untuk menyampaikannya. Allah Ta’ala berfirman :

ولقد بعثنا فى كل أمةٍ رسولاً أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thagut!”. [terjemah QS. 16 : 36]

وما أرسلنا من قبلك من رسول إلا نوحي إليه أنه لا إله إلا أنا فاعبدوني

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya : Bahwasannya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku!”. [terjemah QS. 21 : 25]


Kaum musyrikin terdahulu, bukanlah kaum yang ingkar akan keberadaan Allah Ta’ala, atau mengingkari bahwa Dia-lah yang menghidupkan, mematikan, memberi rezki dan yang semacamnya. Allah Ta’ala berfirman :

 قل من يرزقكم من السماء والأرض أمّن يملك السمع والأبصار ومن يخرج الحي من الميت ويخرج الميت من الحيّ ومن يدبّر الأمر، فسيقولون الله فقل أفلا تتقون

“Katakanlah :‘Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’.

Maka mereka akan menjawab :’Allah’.

Maka katakanlah :’Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)’.” [QS. 10 : 31]


Asal keyakinan yang demikianlah yang menyebabkan mereka kembali kepada Allah semata, ketika berada dalam keadaan yang sangat darurat. Allah Ta’ala berfirman :

وإذا غشيهم موج كالظلل دعوا الله مخلصين له الدين

“Dan apabila mereka digulung ombak yang besar seperti gunung, (ketika itu) mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya”. [terjemah QS. 31 : 32]


Itulah pelajaran penting dari kaum kafir Quraisy. Mereka tidak pernah mengingkari keberadaan Allah, bahkan mereka meyakini kekuasaan-Nya, berdoa kepada-Nya ketika berada dalam keadaan yang sangat darurat. Hal ini menyisakan sebuah pertanyaan,”Adakah keyakinan mereka itu menyebabkannya masuk kedalam Islam, dan selamat dari kehinaan abadi?”. Kenyataannya tidaklah demikian. Justru Allah mengutus rasul-Nya untuk mengarahkan mereka dari penyimpangan kepada jalan yang benar.

Kalau demikian, apa gerangan penyimpangan itu?.. Simaklah keterangan Allah tentang hal tersebut :

وعجبوا أن جاءهم منذرٌ منهم، وقال الكافرون هذا ساحرٌ كذّابٌ

“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata :’Ia itu adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta’.” [terjemah QS. 38 : 4]


Mereka heran terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan apa yang beliau serukan kepada mereka. Keheranan yang mengisyaratkan pengingkaran dan diwujudkan dengan tuduhan mereka bahwa beliau adalah seorang tukang sihir yang banyak berdusta.

Apa yang mereka ingkari?... Allah Ta’ala menjelaskan dalam ayat selanjutnya :

أجعل الآلهة إلهًا واحدًا، إن هذا لشيئٌ عجابٌ

“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan”. [terjemah QS. 38 : 5]


Pokok yang mereka ingkari ternyata adalah penafian terhadap seluruh sesembahan mereka selain Allah semata. Mereka tidak ingin jika sembahannya hanya Allah saja. Mereka memperserikatkan Allah dalam penyembahan dan peribadatan.


Demikianlah inti kesesatan mereka, hingga Allah mengutus rasul-Nya dengan membawa agama yang benar, agama tauhid, agama yang mewajibkan umatnya untuk mempersembahkan seluruh peribadatan mereka –shalat, puasa, sujud, ruku’, al-mahabbah (cinta), al-khauf (takut), ar-raja’ (pengharapan), penyembelihan, nadzar, dan lain-lain-; seluruhnya hanya untuk Allah semata.

Tidak dipersembahkan untuk pohon keramat, penguasa laut, batu dan keris bertuah, tokoh pujaan, kiyai, orang mati, jin dan segala sesuatu yang selain Dia subhanahu wa ta’ala.


Maka, sudahkah kita memurnikan tauhid kita? Semoga Allah senantiasa memberi pertolongan-Nya kepada kaum muslimin dalam meniti jalan perjuangan Dakwah Tauhid yang panjang ini, memaafkan segala yang tersalah dan menutupnya dengan rahmat serta karunia-Nya..


(Majalah al-Bashirah, edisi 05 th. II, 1428/2007 dengan sedikit perubahan)

04 Juli 2011

SAAT BENCANA ITU DATANG

Allah subhanahu wa ta’ala dengan hikmah-Nya yang sempurna dan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu akan menguji para hamba-Nya dengan kelapangan dan kesempitan, dengan kenikmatan dan bencana, untuk menguji kesabaran dan rasa syukur mereka. Siapa yang bersabar saat ditimpa musibah, bersyukur saat dianugerahi kenikmatan, tunduk kepada Allah ketika terjadi musibah, mengakui dosa-dosa dan kekurangannya, memohon rahmat dan ampunan Allah, maka sungguh dia telah beruntung dengan keuntungan yang sangat besar.

ألم، أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم لا يفتنون، ولقد فتنا الذين من قبلهم فليعلمن الله الذين صدقوا وليعلمن الكاذبين
Alif Laam Miim. Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan :’Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” [terjemah QS. 29:1-2]

Allah menguji para hamba dengan berbagai macam ujian kebaikan maupun keburukan sehingga jelas orang yang benar imannya dari yang dusta, sehingga jelas orang yang bersabar dan bersyukur. Allah Ta’ala berfirman :

 وبلوناهم بالحسنات والسيئات لعلهم يرجعون
Dan Kami uji mereka dengan nikmat yang baik-baik dan bencana yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)” [terjemah QS. 7:168]

Yang dimaksud dengan kebaikan dalam ayat tersebut adalah segala kenikmatan berupa kelapangan hidup, kesehatan, kemuliaan, kemenangan atas musuh dan lain-lain. Sementara yang dimaksud dengan keburukan adalah segala musibah, penyakit, musuh yang berkuasa, badai, banjir dan lain-lain. Allah Ta’ala berfirman :

ظهر الفساد فى البر والبحر بما كسبت أيدي الناس ليذيقهم بعض الذي عملوا لعلهم يرجعون
Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya mereka merasakan sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” [terjemah QS. 30:41]

     Makna ayat ini adalah : Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan serta apa yang nampak dari kerusakan tersebut, agar manusia kembali kepada kebenaran, bersegera untuk bertaubat dari apa yang diharamkan Allah dan kembali kepada ketaatan kepada-Nya dan ketaatan kepada rasul-Nya. Karena kekufuran dan maksiat adalah sebab dari segala bencana dan keburukan di dunia dan akhirat.

Adapun men-tauhidkan Allah dan beriman kepada-Nya dan kepada rasul-Nya, taat kepada kepada Allah dan rasul-Nya, berpegang teguh kepada Syari’at-Nya, berdakwah kepada Syari’at-Nya dan mengingkari orang yang menyelisihinya merupakan sebab segala kebaikan di dunia dan akhirat. Demikian pula, sikap komitmen diatas prinsip-prinsip tersebut, saling berwasiat dan tolong-menolong diatasnya merupakan kemuliaan di dunia dan akhirat serta keselamatan dari segala bencana dan fitnah. Allah Ta’ala berfirman :

يا أيها الذين آمنوا إن تنصروا الله ينصركم ويثبت أقدامكم
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” [terjemah QS. 47:7]

ولينصرنّ الله من ينصره، إن الله لقوي عزيز، الذين إن مكناهم فى الأرض أقاموا الصلاة وآتوا الزكاة وأمروا بالمعروف ونهوا عن المنكر، ولله عاقبة الأمور
Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agamanya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah perbuatan munkar, dan kepada Allah kembali segala urusan” [terjemah QS. 22:40-41]


Bencana Alam

Kita telah mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini dari berbagai macam fitnah dan bencana. Orang-orang kafir yang berkuasa di Palestina, Afghanistan dan Irak, banjir di Pakistan, dan berbagai macam bencana alam yang terjadi di negeri kita tercinta. Semua bencana dan musibah ini merupakan ujian dari Allah untuk para hamba disebabkan oleh kekufuran dan kemaksiatan, menyimpang dari jalan ketaatan kepada Allah dan terjerumus kepada dunia dan kenikmatannya yang fana, serta lupa untuk menyiapkan bekal bagi kehidupan akhirat.

Tidak diragukan bahwa musibah yang seperti ini mewajibkan seluruh hamba untuk bersegera bertaubat kepada Allah. Bersegera kepada ketaatan kepadanya dan saling tolong menolong dalam ketakwaan, berwasiat dalam kebenaran dan bersabar diatas kebenaran tersebut. Kapan saja para hamba bertaubat kepada Rabb-nya, tunduk kepada perintah-Nya dan kembali kepada perkara yang diridhai-Nya, niscaya Dia akan memperbaiki keadaan mereka, mencegah keburukan musuh, memberikan kekuasaan kepada mereka di bumi, melimpahkan kenikmatan dan menghilangkan bencana dari kehidupan mereka.

وعد الله الذين آمنوا منكم وعملوا الصالحات ليستخلفنهم فى الأرض كما استخلف الذين من قبلهم وليمكنن لهم دينهم الذي ارتضى لهم وليبدلنهم من بعد خوفهم أمنًا،يعبدونني لا يشركون بي شيئًا، ومن كفر بعد ذلك فأولئك هم الفاسقون
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal shalih bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” [terjemah QS. 24:55]

Hitung-hitunglah diri Anda. Bertaubatlah kepada Allah dan mohonlah ampunan-Nya. Bersegeralah kepada ketaatan dan jauhilah maksiat. Perbanyaklah dzikir dan istighfar agar Anda dirahmati Allah. Ambillah pelajaran dari apa yang menimpa saudara-saudara kita di tempat lain. Sesungguhnya Allah menerima taubat orang yang mau bertaubat, menyayangi orang yang berbuat baik dan memberikan balasan yang baik bagi orang yang bertakwa.

(Disarikan dari kitab Wujûbut Taubah ilâ_llâhi wa adh Dharâ’ah ‘inda Nuzûlil Mashâ-ib, oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz –semoga Allah merahmatinya- dengan sedikit perubahan)